Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Menghukum Dengan Alasan Penegakan Kedisiplinan, Apakah Ada hal Semacam Itu ?

Menghukum Dengan Alasan Penegakan Kedisiplinan, Apakah Ada hal Semacam Itu ?
Postes by Google.co.id


MASAIYA.com - "Assalamu'alaikum wr wb, misi pak. Apakah saya boleh masuk ? " pertanyaan itulah yang sering saya tanyakan kepada guru, setiap kali saya telat masuk kelas dari kelas 4 Sd Hingga sekarang saya masih suka menggunakan kata itu, karena rasanya dengan mengucapkan permisi kita bisa lebih menghargai guru yang ada didalam kelas tersebut.

Setiap orang pernah merasakan yang namanya "TELAT", telat yang dimaksud disini adalah telat datang ke sekolah ya bukan telat datang bulan hehe. Setiap kita telat masuk kelas tentu saja kita akan diberikan hukuman oleh guru kita yang mengajar pada jam tersebut. Tapi sayangnya, setiap instansi sekolah baik itu negeri ataupun swasta kerap kali menghubung - hubungkan antara hukuman dan penegakan disiplin.

Entah kenapa sejak jaman dahulu kala dari orang tua saya masih bayi dan saya masih belum lahir para guru sering kali menghukum murid yang telat masuk dengan "KETERLALUAN" dan saat ditanya, guru itu akan bilang kalau yang dilakukan nya sudah benar dengan alasan untuk penegakan kedisiplinan. Padahal kita semua tahu menghukum dengan cara berlebihan tidak akan bisa menimbulkan kedisiplinan yang ada malah murid tersebut semakin bandel.

Berikut adalah contoh hukuman yang menurut saya tidak masuk akal yang sering disebut oleh guru sebagai "hukuman penegak kedisiplinan"

- Siswa Telat Masuk Tidak Boleh Masuk Kelas Bahkan Disuruh Pulang
hukuman ini sering kali saya terima, kalau boleh jujur saya bukan tipe orang yang bisa tidur cepat, saya tidur itu pasti diatas jam 2, dan wajar saja kalau dipagi hari saya sering terlambat. yang jadi masalah adalah hukuman yang diberikan kenapa harus melarang masuk ? "kita kan bayar disini" kata teman saya yang sama sama telat.

Apakah guru pernah berfikir apa yang kami lakukan diluar saat hukuman berlanjut, kami hanya duduk di dekat pintu dan bercerita. dan yang saya lihat diwajah teman saya adalah seakan akan wajah tersebut berkata "minggu depan ak harus datang cepat" hanya itu yang ada diotak mereka, mereka tidak sama sekali memikirkan pelajaran yang mereka pikirkan hanyalah absensi kelas. Bukan berarti aku suka telat ya, aku juga benci yang namanya telat karena itu hanya membuat ku malu.

saya sempat mencari cari digoogle dan ketemu salah satu blog guru dan beliau menulis begini di blog nya tersebut


Assalamu’alaikum wr.wb.,Saya bertanya di group guru tentang apa yang dilakukan kalau ada siswa yang telat masuk kelas. Banyak guru menjawab bahwa siswa itu akan kena hukuman. Kalau telat sekali saja, hanya ditegor, tapi ada juga yang menghukum untuk 1 kali telat. Kalau lebih dari 3 kali berturut-turut, maka sudah pasti ada hukuman dan ini masuk dalam peraturan sekolah. Ada hukuman di mana siswa dilarang masuk kelas, dilarang masuk sekolah, dipulangkan ke rumah, dikasih hukuman bersihkan lapangan, orang tua dipanggil, dan juga ada sekolah yang ancam keluarkan siswa dari sekolah kalau telat lebih dari 4 kali. 
Ada yang berkomentar bahwa siswa harus disiplin, jadi yang penting adalah hasil: hadir di kelas tepat pada waktunya. Sepertinya guru tidak mau tahu tentang bagaimana caranya, atau dalam kondisi apa siswa hadir. Yang penting hanya hasil itu saja, bukan proses. Itu merupakan pelajaran apa bagi siswa? (Apa teman2 ingat pembahasan saya tentang UN dulu? Yang penting hanya hasil, yaitu lulus, dan proses tidak penting, makanya ada banyak kasus pencontekan.) Ada guru yang mengatakan siswanya harus dibiarkan menangis di depan kelas (karena tidak boleh masuk). Saya pernah dengar juga ada sekolah yang kunci pagar dan melarang siswa masuk (jadi mereka bebas main ke warnet seharian). Apa sekolah itu mau disebut “tempat belajar”? Kalau tujuan sekolah adalah mendidik, bagaimana kita bisa mendidik siswa kalau pada saat mereka datang, kita malah melarang mereka masuk (karena telat 5 minit) 
Ada guru yang mengatakan siswa yang telat lebih dari 4 kali berturut2 akan terima surat yang mengancam akan keluarkan mereka dari sekolah kalau terjadi lagi. Tetapi kalau dia ikut tawuran dan membunuh anak lain, dia juga akan dikeluarkan dari sekolah. Kok kedua hal itu yang sangat berbeda bisa dapat “hukuman yang sama”? Apa guru dan sekolah ada niat “mengajar” dan memberikan pendidikan yang terbaik? Atau apa niatnya sebatas “menampung siswa saja” dengan gaya penjara, atau gaya militer (apa ini sisa dari pendidikan Orde Baru)? 
Seingat saya, anak sekolah yang telat di Selandia Baru atau Australia hanya dinasehati, dan diajak berubah. Diajarkan bahwa dia merugikan diri sendiri kalau telat. Tapi tidak dimarahi, atau ditegor dengan sikap marah, orang tua tidak perlu ditelfon, anak tidak diberikan “hukuman”, dan tidak ada kasus anak dilarang masuk kelas, apalagi dilarang masuk sekolah, apalagi dikeluarkan dari sekolah hanya karena “telat”. Kenapa di sini bisa seperti itu? Landasan pemikiran itu apa? Manfaat dari sisi pendidikan dan psikologi anak apa? Sepertinya banyak orang dewasa di sini, baik guru maupun orang tua, hanya meneruskan apa saja yang dulu dilakukan terhadap mereka oleh orang tua dan guru pada zaman dulu, dan tidak mau belajar. Ilmu psikologi anak dan buku/majalah parenting sudah banyak. Tapi berapa banyak orang tua/guru mau belajar? 
Ada banyak sekali alasan yang bisa membuat seorang anak telat, bahkan berkali2 dalam satu minggu. Contohnya: Macet. Banjir. Sakit perut, jadi harus ke WC. Ada saudara yang sakit, dan dia yang lama di kamar mandi. Susah tidur (insomnia). Orang tua sering ribut (mungkin mau cerai). Ada kerjaan pagi seperti mengantar koran, atau menjadi pemulung. Dan banyak lagi “alasan” yang setara. 
Ini bukan pilihan siswa untuk mengalami hal2 seperti ini, tapi kenyataannya, dia harus mengalaminya. Jadi? Apa kita harus “memberikan hukuman” atau bahkan mengancam akan dikeluarkan dia dari sekolah? Apa kita tidak mau peduli pada apa yang dialami siswa dalam kehidupannya, dan hanya mau melihat HASIL, yaitu masuk tepat waktu? Apa itu “pelajaran” yang terbaik untuk 50 juta siswa di Indonesia? Sebagian dari mereka akan menjadi pemimpin bangsa nanti! 
Saya dulu diajarkan, dan sekarang juga meyakini, bahwa saya sebagai seorang guru punya tugas yang sangat mulia. Saya diberikan kesempatan untuk menjadi orang yang punya pengaruh besar terhadap masa depan semua manusia kecil (calon orang dewasa) yang duduk di depan saya. Saya bisa mengubah cara pikir mereka dari yang kurang baik menjadi baik, dan dari baik menjadi luar biasa. Kalau nanti mereka menjadi manusia yang luar biasa, yang menjadi contoh yang baik di tengah masyarakat, maka sebagian dari itu adalah hasil dari kerjaan saya sebagai gurunya. Itu yang ingin saya berikan kepada semua siswa saya. 
Pada saat saya mengajar, kalau ada siswa yang datang telat, maka tanggapan saya selalu sama. Dia masuk, minta maaf karena telat, dan cepat duduk. Saya senyum, bilang “Silahkan masuk”, dan biarkan dia duduk. Kalau siswa lain sudah mulai kerjakan tugas, saya suruh dia bertanya kepada teman di sebelah tentang apa yang sedang dikerjakan, dan kalau kurang paham bisa tanya kepada saya. Kalau semua siswa sedang kerjakan tugas yang berkaitan dengan ilmu baru, yang sudah selesai dibahas, maka saya akan duduk di samping siswa yang telat itu, dan memberikan ringkasan dari ilmu itu. Dan saya minta teman di sebelah untuk bantu dia mengerti dengan memberikan penjelasan tambahan. 
Saya seorang guru. Tugas saya adalah mengajar. Saya tidak ingin menjadi seorang satpam yang mengancam siswa yang telat 5 minit. Tempat yang pantas bagi siswa saya adalah di dalam kelas bersama saya. Bukan menangis di depan pagar sekolah yang terkunci. 
Semoga bermanfaat,
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto

- Ditahan didepan Pagar
Hukuman ini pernah saya terima di kelas VII Mts saat itu saya benar benar telat, saya datang ke sekolah sekitar jam 7:20 Wib. fatalnya yang mengajar pada jam pertama hari itu adalah guru yang bisa dibilang menakutkan atau yang anak anak sekarang bilang guru "Killer".

Apa yang saya dapat dari hukuman itu ? TIDAK ADA (saat itu). yang ada hanyalah rasa malu dan kemarahan bahkan dendam. rasa malu karena dilihatin oleh senior senior ku, dan marah kepada guru yang memberikan hukuman, bukan berarti saya tidak mengakui kesalahan, saya tahu betul saya telat dan salah dan saya menyadari itu semua. tapi apakah guru pernah bertanya apakah alasannya ? Kalau boleh jujur, saat itu saya terlambat karena ibu saya masuk rumah sakit pada jam 6 pagi. dan sampai sekarang rasa untuk menjelaskan alasan itu belum surut sama sekali, walaupun semua teman teman ku melihat ku tersenyum dan tertawa.

Terus gimana dong untuk membuat jera "mereka - mereka" yang suka telat, disini lah para guru harus memberikan peraturan yang bisa kita sebut konsekuensi, nah guru bisa memberikan dan memberitahu konsekuensi yang akan kita para murid terima jika telat masuk kelas.

Sebagai contoh, pagi hari ini saya terlambat masuk kelas, dan apakah saya mendapatkan hukuman ? Tidak. lah kok gitu ? Iya yang saya dapatkan dari Guru saya hari ini adalah konsekuensi atas kesalahan saya sendiri yaitu duduk dilantai tetapi masih boleh masuk dan mengikuti pelajaran. alhasil saya berhasil menerima pelajaran dan pembelajaran masalah kedisiplinan. saya sangat berterima kasih kepada Bapak (*maaf saya tidak menyebutkan nama)

Apakah yang saya dapatkan dari konsekuensi seperti ini ? Saya mendapatkan ilmu karena masih boleh masuk ke kelas dan pelajaran yang bisa kuambil dari kejadian pagi tadi. walaupun saya sempat mengantuk dikarenakan kurang tidur pada malam harinya.

Intinya, semua yang dilakukan oleh guru kita disekolah adalah tindakan yang bertujuan baik, mana ada guru yang mau buat muridnya bodoh. Gak ada !!!. Semua guru mau murid nya pintar, mungkin hanya caranya yang tidak masuk akal. Terlepas dari itu semua saya sangat menghormati dan berterima kasih atas jasa jasa guru indonesia selama ini yang rela mengajar dari pagi hingga siang hari, walaupun dengan gaji yang minim. Saya salut lihat ketekunan guru kita dan itu harus kita contoh.

Saya pernah bertanya kepada salah satu guru, kenapa sih bapak mau jadi guru tkk ? yang notabene gajinya kecil. bapak itu hanya menjawab karena beliau mencintai pekerjaan ini dan mau bermanfaat bagi orang lain. coba kita pikir kalau guru gak ada, apa yang kita tahu ? mungkin membaca aja kita gak bisa sampai sekarang ? sebagai tambahan guru indonesia itu hebat hebat loh. kenapa ? karena bisa mencetak murid yang berkualitas, seperti barack obama. presiden kita Jokowidodo. Penemu jaringan 4g juga orang indonesia. kurang keren apalagi guru kita ? Mari kita dukung Guru indonesia mereka adalah orang orang mulia, pahlawan tanpa tanda jasa.

Mohon maaf jika ada salah kata atau tulisan saya yang menyakiti perasaan anda. intinya diartikel ini saya tidak bermaksud untuk "sok tau" atau "sok pintar" saya hanya mengeluarkan opini yang ada di pikirin saya. karena itu lah fungsi blog yang bukan hanya sebagai media berbagi informasi. akhir kata wassalam.

8 komentar:

  1. dihukum itu bagus gan asal dilakukan tidak melebihi batas

    BalasHapus
  2. wew saya tak berani berkomentar :D

    BalasHapus
  3. Saya bersyukur guru saya tdk pernah marah kalau sy terlambat. Sy ditanya kenapa telat....trus lain kali usaha jgn terlambat ya.... Sy semasa SMA nyambi jual bibit lele ....sering telat tapi Bpk Ibu guru tetap sayang pdku. Terimakasih Bpk dan Ibu guruku

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah beruntung nya punya guru seperti mereka.
      sukses terus buk :)

      Hapus

Komentarlah, Selagi Masih Gratis :D